PBB sebagai
tangan Tuhan untuk Sudan
Oleh : Abdul Halim / 201410360311159
Mahasiswa jurusan Hubungan
Internasional
Universitas Muhammadiyah Malang
Pada tanggal 24 Oktober 1945, Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi didirikan untuk menggantikan Liga
Bangsa-Bangsa. Para wakil dari negara-negara Sekutu pada Perang Dunia Kedua,
yaitu AS, Soviet, Inggris, dan Perancis, dalam perundingan-perundingan selama
perang tersebut telah memulai persiapan pendirian PBB ini. Akhirnya, dalam
konfrensi di San Fransisko, Amerika, para wakil dari 50 negara-negara dunia
menandatangani piagam pembentukan PBB. PBB bermarkas tetap di New York. Tujuan
utama didirikannya PBB, seperti yang disinggung dalam piagam PBB, adalah untuk
menjaga perdamaian di dunia, mengembangkan hubungan persahabatan antar bangsa,
memupuk kerjasama internasional untuk menyelesaikan berbagai masalah ekonomi,
sosial, dan budaya, serta mengembangkan penghormatan atas Hak Asasi Manusia dan
kebebasan. PBB hadir ditengah masyarakat dunia yang pada saat itu tengah
mengalami konflik berkepanjangan diakhir perang dunia ke-dua. Kehadiran PBB seolah memberikan angin segar untuk
menjaga perdamaian ditengah-tengah konflik yang tak berujung. Kehadiran PBB
ditengah masyarakat internasional adalah sebagai wadah penyatuan norma-norma
internasional yang dapat diajadikan sebagai azas hidup bangsa dan negara.
Dalam sebuah kancah internasional PBB adalah sebuah
wadah bagi tiap-tiapo negara untuk berkumpul dan berunding. PBB mempunyai
banyak misi dan tujuan yang sangat mulia, peace
making, peace building, dan peace
keeping. Intinya adalah menjaga perdamaian dalam ranah internasional, untuk
menghindarkan dunia dari peperangan antar negara atau bangsa. Adanya hukum yang
mengatur tiap-tiap anggota yang mengikat dan sebenarnya harus dipatuhi oleh
tiap-tiap negara anggota. Saat ini tidak ada satu negara pun yang dapat
hidup sendiri dalam artian untuk memenuhi kebutuhan nasionalnya. Tak ada satu
negara pun yang tak memerlukan negara lain dalam demi terwujudnya suatu
pencapaian. Dalam menjalin hubungan kerja sama tersebut maka diperlukanlah
suatu wadah yang dapat menampung interaksi. Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap
negara mempunyai kepentingan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Saat
ini tidak ada satu negara pun yang dapat hidup sendiri dalam artian untuk
memenuhi kebutuhan nasionalnya. Setaip negara pasti memerlukan negara laian
untuk menjadi partner dan teman
sebagai pengguat mereka dikanca nasional. Tak ada satu negara pun yang tak
memerlukan negara lain dalam demi terwujudnya suatu pencapaian. Dalam menjalin
hubungan kerja sama tersebut maka diperlukanlah suatu wadah yang dapat
menampung interaksi.
Masalah-masalah didunia memang tidak dapat
diberhentikan, masalah baru terus bermunculan tiap harinya. Peperangan dan
pertikaian memang tidak bisa dipisahakan dari kehidupan kemanusiaan di bumi
ini. Perbedaan lah yang membuat satu sama lain bertikai. Hal ini tentu tidak
bisa diteruskan dan dijadikan sebagai landasan hidup. Peperangan, konflik,
pertikaian selalu akan membawa korban, baik korban secara materiil ataupun
korban secara fisik. PBB hadir dan dibentuk pada saat itu, untuk meminimalisir
adanya kelanjutan perang yang tak usai didunia ini. Memang pada akhirnya tidak
semua peperangan bisa diberhentikan dan diselesaikan pada waktu yang cepat.
Terkadang peperangan diselesaikan cukup alot dan susah, dan tentunya memerlukan
waktu yang panjang. Seperti peperangan antar etnis di Sudan.
Salah satu konflik yang cukup panjang yang terjadi
didunia adalah konflik yang terjadi pada Sudan. Konflik ini lebih didasarkan
pada konflik etnis dan agama, dimana pada daerah Sudan Utara masyarakatnya
beragama Islam dan etnisnya Arab sedangkan pada daerah sudan Selatan
masyarakatnya beragama Kristen dan etnisnya adalah etnis pribumi afrika. Pada
saat pemerintahan Omar Al Bashir, yang notabane nya adalah seorang dari wilayah
Sudan Utara (yang merupakan seorang Muslim dan Arab) menaiki jabatan sebagai
presiden, ia mencoba mengintrepasikan kehidupan arab dan Islam dalam kehidupan
Sudan, melingkupi aturan-aturan, hukum dan norma masyarakat yang ada. Pada
kenyataannya, pemerintahan Omar cenderung untuk mementingkan kehidupan warga
Sudan Utara, serta secara tidak langsung Omar mulai menyampingkan kehidupan warga
pribumi afrika atau warga Sudan Selatan. Keadaan ini diperparah dengan pembentukan
Janjaweed(milisi) yang dibentuk oleh pemerintah untuk mengamankan wilayah
Darfur. Dengan kekuataan yang mereka(Janjaweed) punya, ia mulai bertindak
kasar. Timbulnya kekuataan ini, disalahgunakan oleh Janjaweed untuk mengusir
warga Darfur dari wilayah mereka dengan tindakan-tindakan koersif atau
menggunakan kekerasan. Karena terus ditekan terus menerus, maka warga pribumi
Afrika membentuk suatu gerakan yang disebut SLM/A (Sudab Liberation Movement/army) untuk mengimbangi kebrutalan
Janjaweed.
Kemunculan SLM/A dan Janjaweed, secara tidak
langsung telah membuka lembaran konflik baru. Pemerintah dengan “tunggangannya”
Janjaweed mulai menyerang dan membasmi SLM/A, begitupula SLM/A selalu
memberikan balasan. Tetapi dari sisi Janjaweed lebih diutungkan karena mereka
didukung penuh oleh pemerintah , maka segala tindakan nya lebih mudah. Sedangkan
SLM/A lebih susah gerkannya karena ia tidak bisa secara leluasa bertindak ,
segala gerak-geriknya diketauhi dan dimonitoring oleh pemerintahan Omar. Dengan
ketidak seimbangan ini, Janjaweed dituding melakukan pelanggaran dan
menyalahgunakan kekuasaan. Janjaweed dituding melakukan pemberisihan etnis
pribumi afrika atau yang biasa disebut
genocide diwilayah Darfur. Darfur sendiri adalah wilayah yang terletak
diantara Sudan Utara dengan Sudan Selatan. Wilayah Darfur sangat kaya akan
hasil tambang dan minyak bumi didalmnya, maka dari itu Omar sangat menginginkan
daerah itu untuk dikuasainya dengan tindakan yang salah.
Persoalan Sudan ini sendiri, telah menjadi konflik
regional serta dunia. Hal ini didasarkan kepada banyaknya korban jiwa dipihak
kaum pribumi Afrika yang membaut warga pribumi Afrika ditempat lain merasa
marah dan cenderung menimbulkan konflik. Selain itu, banyaknya korban dari
konflik ini yang mencari suaka ke tempat
lain, didaerah sekitar seperti Chad, Djibouti, dan beberpa negara-negara Afrika
sekitarnya. Hal ini membuat warga serta pemerintahan negara-negara sekitar
Sudan dan geram. Banyak pihak yang menekan Omar Al- Bashir untuk menghentikan
konflik tersebut. Hal ini membuat dunia semakin terhentak. Uni Afrika sebagai
wadah bagi masyarakat Afrika juga telah melakukan beberpa tindakannya, seperti
membentukan AMIS (African union Mission
in Sudan) serta beberapa langkah peace
making lainnya. PBB sebagai wadah Internasional merasa terpanggil untuk
menyelesaikan permasalahan ini, karena salah satu tugas PBB adalah menjaga
perdamaian, mengalihkan perang dan adanya upaya-upaya negosiasi dan duduk
diantara kedua belah pihak. Sejalan dari itu, PBB dibawah rezim Koffi Annan
pada saat itu membentuk UNAMID (United
Nation Mission in Darfur).
Sejalan dengan tujuan PBB, maka PBB menyiapkan diri
sebagai penyelenggara perdamaian didunia. Pada konflik Sudan, PBB memberikan
beberapa opsi. Diantaranya ada jalan damai dan ada juga dengan jalan yang keras
seperti penempatan pasukan militer diwilayah konflik (Darfur). Selain itu PBB
juga mengutus Chad sebagai mediator dari konflik ini, untuk berbicara dan
menemukan titik tengah supaya konflik ini selesai. Dari pertemuaan ini, kedua
belah pihak (pemberontak serta pemerintah) sepakat untuk mengambil jalan
genjatan senjata selama 45 hari. PBB, juga menyadari bahwa pemerintahan Sudan
adalah pemerintahan yang sah. Maka PBB juga memberikan kedaulatan Sudan untuk
menyelesaikan konflik ini sendiri, mereka (pemberontak serta pemerintah)
sepakat untuk tidak saling menyerang pada daerah-daerah tertentu yang telah
disepakati kedua negara. Kedua belah pihak juga sepakat tidak akan menggunakan
senjata-senjata yang berbahaya. PBB juga memberikan intervensi berupa
penyeruaan genjatan senjata lagi, menysul berakhirnya perjanjiaan genjatan senjata yang pertma. Hal ini
dilakukan oleh Koffi Annan (selaku Sekjen PBB pada saat itu) saat menengok
langsung kejadian serta konflik tersebut pada saat berkunjung di Sudan. Peran
PBB sangat vital dan tidak bisa dielahkan, karena dengan adanya PBB kedua belah
pihak mau dan setuju untuk melakukan perbincangan dan bertemu langsung.