Sabtu, 21 November 2015

PBB sebagai tangan Tuhan untuk Sudan

PBB sebagai tangan Tuhan untuk Sudan

Oleh : Abdul Halim / 201410360311159
Mahasiswa jurusan Hubungan Internasional
 Universitas Muhammadiyah Malang

Pada tanggal 24 Oktober 1945, Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi didirikan untuk menggantikan Liga Bangsa-Bangsa. Para wakil dari negara-negara Sekutu pada Perang Dunia Kedua, yaitu AS, Soviet, Inggris, dan Perancis, dalam perundingan-perundingan selama perang tersebut telah memulai persiapan pendirian PBB ini. Akhirnya, dalam konfrensi di San Fransisko, Amerika, para wakil dari 50 negara-negara dunia menandatangani piagam pembentukan PBB. PBB bermarkas tetap di New York. Tujuan utama didirikannya PBB, seperti yang disinggung dalam piagam PBB, adalah untuk menjaga perdamaian di dunia, mengembangkan hubungan persahabatan antar bangsa, memupuk kerjasama internasional untuk menyelesaikan berbagai masalah ekonomi, sosial, dan budaya, serta mengembangkan penghormatan atas Hak Asasi Manusia dan kebebasan. PBB hadir ditengah masyarakat dunia yang pada saat itu tengah mengalami konflik berkepanjangan diakhir perang dunia ke-dua. Kehadiran  PBB seolah memberikan angin segar untuk menjaga perdamaian ditengah-tengah konflik yang tak berujung. Kehadiran PBB ditengah masyarakat internasional adalah sebagai wadah penyatuan norma-norma internasional yang dapat diajadikan sebagai azas hidup bangsa dan negara.

Dalam sebuah kancah internasional PBB adalah sebuah wadah bagi tiap-tiapo negara untuk berkumpul dan berunding. PBB mempunyai banyak misi dan tujuan yang sangat mulia, peace making, peace building, dan peace keeping. Intinya adalah menjaga perdamaian dalam ranah internasional, untuk menghindarkan dunia dari peperangan antar negara atau bangsa. Adanya hukum yang mengatur tiap-tiap anggota yang mengikat dan sebenarnya harus dipatuhi oleh tiap-tiap negara anggota.  Saat ini tidak ada satu negara pun yang dapat hidup sendiri dalam artian untuk memenuhi kebutuhan nasionalnya. Tak ada satu negara pun yang tak memerlukan negara lain dalam demi terwujudnya suatu pencapaian. Dalam menjalin hubungan kerja sama tersebut maka diperlukanlah suatu wadah yang dapat menampung interaksi. Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap negara mempunyai kepentingan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Saat ini tidak ada satu negara pun yang dapat hidup sendiri dalam artian untuk memenuhi kebutuhan nasionalnya. Setaip negara pasti memerlukan negara laian untuk menjadi partner dan teman sebagai pengguat mereka dikanca nasional. Tak ada satu negara pun yang tak memerlukan negara lain dalam demi terwujudnya suatu pencapaian. Dalam menjalin hubungan kerja sama tersebut maka diperlukanlah suatu wadah yang dapat menampung interaksi.

Masalah-masalah didunia memang tidak dapat diberhentikan, masalah baru terus bermunculan tiap harinya. Peperangan dan pertikaian memang tidak bisa dipisahakan dari kehidupan kemanusiaan di bumi ini. Perbedaan lah yang membuat satu sama lain bertikai. Hal ini tentu tidak bisa diteruskan dan dijadikan sebagai landasan hidup. Peperangan, konflik, pertikaian selalu akan membawa korban, baik korban secara materiil ataupun korban secara fisik. PBB hadir dan dibentuk pada saat itu, untuk meminimalisir adanya kelanjutan perang yang tak usai didunia ini. Memang pada akhirnya tidak semua peperangan bisa diberhentikan dan diselesaikan pada waktu yang cepat. Terkadang peperangan diselesaikan cukup alot dan susah, dan tentunya memerlukan waktu yang panjang. Seperti peperangan antar etnis di Sudan.

Salah satu konflik yang cukup panjang yang terjadi didunia adalah konflik yang terjadi pada Sudan. Konflik ini lebih didasarkan pada konflik etnis dan agama, dimana pada daerah Sudan Utara masyarakatnya beragama Islam dan etnisnya Arab sedangkan pada daerah sudan Selatan masyarakatnya beragama Kristen dan etnisnya adalah etnis pribumi afrika. Pada saat pemerintahan Omar Al Bashir, yang notabane nya adalah seorang dari wilayah Sudan Utara (yang merupakan seorang Muslim dan Arab) menaiki jabatan sebagai presiden, ia mencoba mengintrepasikan kehidupan arab dan Islam dalam kehidupan Sudan, melingkupi aturan-aturan, hukum dan norma masyarakat yang ada. Pada kenyataannya, pemerintahan Omar cenderung untuk mementingkan kehidupan warga Sudan Utara, serta secara tidak langsung Omar mulai menyampingkan kehidupan warga pribumi afrika atau warga Sudan Selatan. Keadaan ini diperparah dengan pembentukan Janjaweed(milisi) yang dibentuk oleh pemerintah untuk mengamankan wilayah Darfur. Dengan kekuataan yang mereka(Janjaweed) punya, ia mulai bertindak kasar. Timbulnya kekuataan ini, disalahgunakan oleh Janjaweed untuk mengusir warga Darfur dari wilayah mereka dengan tindakan-tindakan koersif atau menggunakan kekerasan. Karena terus ditekan terus menerus, maka warga pribumi Afrika membentuk suatu gerakan yang disebut SLM/A (Sudab Liberation Movement/army) untuk mengimbangi kebrutalan Janjaweed.

Kemunculan SLM/A dan Janjaweed, secara tidak langsung telah membuka lembaran konflik baru. Pemerintah dengan “tunggangannya” Janjaweed mulai menyerang dan membasmi SLM/A, begitupula SLM/A selalu memberikan balasan. Tetapi dari sisi Janjaweed lebih diutungkan karena mereka didukung penuh oleh pemerintah , maka segala tindakan nya lebih mudah. Sedangkan SLM/A lebih susah gerkannya karena ia tidak bisa secara leluasa bertindak , segala gerak-geriknya diketauhi dan dimonitoring oleh pemerintahan Omar. Dengan ketidak seimbangan ini, Janjaweed dituding melakukan pelanggaran dan menyalahgunakan kekuasaan. Janjaweed dituding melakukan pemberisihan etnis pribumi afrika atau yang biasa disebut genocide diwilayah Darfur. Darfur sendiri adalah wilayah yang terletak diantara Sudan Utara dengan Sudan Selatan. Wilayah Darfur sangat kaya akan hasil tambang dan minyak bumi didalmnya, maka dari itu Omar sangat menginginkan daerah itu untuk dikuasainya dengan tindakan yang salah.

Persoalan Sudan ini sendiri, telah menjadi konflik regional serta dunia. Hal ini didasarkan kepada banyaknya korban jiwa dipihak kaum pribumi Afrika yang membaut warga pribumi Afrika ditempat lain merasa marah dan cenderung menimbulkan konflik. Selain itu, banyaknya korban dari konflik ini yang  mencari suaka ke tempat lain, didaerah sekitar seperti Chad, Djibouti, dan beberpa negara-negara Afrika sekitarnya. Hal ini membuat warga serta pemerintahan negara-negara sekitar Sudan dan geram. Banyak pihak yang menekan Omar Al- Bashir untuk menghentikan konflik tersebut. Hal ini membuat dunia semakin terhentak. Uni Afrika sebagai wadah bagi masyarakat Afrika juga telah melakukan beberpa tindakannya, seperti membentukan AMIS (African union Mission in Sudan) serta beberapa langkah peace making lainnya. PBB sebagai wadah Internasional merasa terpanggil untuk menyelesaikan permasalahan ini, karena salah satu tugas PBB adalah menjaga perdamaian, mengalihkan perang dan adanya upaya-upaya negosiasi dan duduk diantara kedua belah pihak. Sejalan dari itu, PBB dibawah rezim Koffi Annan pada saat itu membentuk UNAMID (United Nation Mission in Darfur).

Sejalan dengan tujuan PBB, maka PBB menyiapkan diri sebagai penyelenggara perdamaian didunia. Pada konflik Sudan, PBB memberikan beberapa opsi. Diantaranya ada jalan damai dan ada juga dengan jalan yang keras seperti penempatan pasukan militer diwilayah konflik (Darfur). Selain itu PBB juga mengutus Chad sebagai mediator dari konflik ini, untuk berbicara dan menemukan titik tengah supaya konflik ini selesai. Dari pertemuaan ini, kedua belah pihak (pemberontak serta pemerintah) sepakat untuk mengambil jalan genjatan senjata selama 45 hari. PBB, juga menyadari bahwa pemerintahan Sudan adalah pemerintahan yang sah. Maka PBB juga memberikan kedaulatan Sudan untuk menyelesaikan konflik ini sendiri, mereka (pemberontak serta pemerintah) sepakat untuk tidak saling menyerang pada daerah-daerah tertentu yang telah disepakati kedua negara. Kedua belah pihak juga sepakat tidak akan menggunakan senjata-senjata yang berbahaya. PBB juga memberikan intervensi berupa penyeruaan genjatan senjata lagi, menysul berakhirnya perjanjiaan  genjatan senjata yang pertma. Hal ini dilakukan oleh Koffi Annan (selaku Sekjen PBB pada saat itu) saat menengok langsung kejadian serta konflik tersebut pada saat berkunjung di Sudan. Peran PBB sangat vital dan tidak bisa dielahkan, karena dengan adanya PBB kedua belah pihak mau dan setuju untuk melakukan perbincangan dan bertemu langsung.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar