Sadarlah Manusia
Oleh : Abdul Halim / 201410360311159
Mahasiswa jurusan Hubungan Internasional
Universitas Muhammadiyah Malang
Alam
sebagai rumah dari ribuan mahluk hidup, telah ada sejak jutaan tahun lalu. Alam
telah menjadi saksi bisu keberadaan bumi ini, mulai sejak manusia awal hidup
sampai nanti umat terakhir yang akan mendiami bumi ini alam akan ada disitu.
Keberadaan alam pun sendiri seolah tidak bisa dipisahkan lagi dari peradaban
manusia. Manusia dan alam tentu tidak dapat dipisahkan. Alam mencakup segala
materi hidup dan materi bukan hidup yang berada secara alami di bumi. Tentu keberadaan
alam sendiri tidak bisa dipungkiri kehebatanyya. Meskipun telah ratusan orang
hidup dan tinggal dengan alam, alam selalu memberikan apa yang mereka punya
kepada manusia, tanpa memandang bulu dan ras.
Alam
sebagai sahabat terdekat manusia dan tempat yang paling nyaman untuk ditinggali
selama dunia masih berputar. Alam selalu memberikan sesuatu yang mereka punya
kepada manusia. Tetapi manusia jarang yang menyadari akan kesetian yang
diberikan oleh alam. Seolah manusia telah tertutupi oleh kebinggaran dunia akan
segala ke modernitas yang di tawarkan. Manusia seolah menjadi mahluk yang
angkuh untuk berbagi dan saling mengasihi. Seolah-olah yang hidup dan bertahan
di dunia ini hanyalah manusia saja, tanpa ada pihak lain yang perlu
diperhatikan. Hal ini tentu sangat tidak pantas bagi seorang yang diciptakan
dengan memiliki segudang keistimewaan yang ada. Kita perlu menyadari bahwa alam
ini tercipta berdasarkan sifat-sifat alamiah yang mereka punya. Keberadaan alam
bukan diciptakan dari campur tangan manusia. Manusia sebagai seorang yang mampu
untuk memimpin dan mempunyai segudang kelebihan tentu sebaiknya manusia
menghargai komunitas lain seperti komunitas alam. Komunitas alam ini selalu
memberikan kontribusi yang terbaik untuk kemaslahatan umat manusia. Manusia dan
alam adalah sebuah mahluk hidup yang tidak dapat dipisahkan, mereka selalu
berkengantungan antar satu dengan yang lain.
Kita
sebagi umat manusia sebagai salah satu pewaris tahta dunia tentu sebaiknya
menjaga kelangsungan hidup setiap elemen yang ada dibumi ini, bukan malah
merusak dan tidak bertanggung jawab atas apa-apa yang telah dilakukan
sebelumnya. Bila kita ingin menengok sedikit saja sudah berapa tanaman dan
pohon yang harus dicabut dari tanah mereka dan harus dipisahkan dari permukaan
bumi. Terutama di zaman yang serba modern ini, banyak manusia-manusia tidak
bertanggung jawab yang merusak ekosistem alami hutan dan keindahan alam. Banyak
manusia yang lalai akibat dari pengerusakan tersebut,apa yang terjadi
dikemudian hari juga masih menjadi bayang-bayang kegelisahan yang sangat menakutkan.
Banyak hal yang telah hancur dan hilang dari peradaban alam, baik itu yang
disengaja oleh manusia maupun penyebab-penyebab alamiah atau natural.
Manusia
sebagai mahluk yang sangat baik dan kompleksitas segalanya tentu sebaiknya
memikirkan apa-apa yang telah mereka lakukan. Manusia selalu berlomba-lomba
untuk menciptakan sesuatu yang baru dan semakin kompleks kedepannya. Tetapi tak
jarang mereka melakukan kebaikan-kebaikan tersebut tetapi juga merusak alam.
Banyak dari insan manusia yang menciptakan alat-alat terbaik yang mereka punya
untuk menghancurkan alam. Mereka terlalu gila akan kemodernitas dan mulai
menyingkirkan hal-hal yang berbau alam. Hal ini sangat disayangkan jika terus
berlalu dan terulang. Jika pemikiran manusia selalu seperti ini, dapat kita
gambarkan bahwa 100 tahun atau 1000 tahun lagi peradaban manusia setelah kita
akan tidak mengenali apa itu hutan dan apa itu alam. Mungkin yang mereka bisa
lakukan adalah melihat foto-foto alam atau hutan dari buku pelajaran yang
disediakan oleh sekolah-sekolah yang ada.
Tentu
masih hangat dalam ingatan kita bencana alam yang maha dasyat yang merobek
perhatian mata kita dan dunia pada masalah ini. Kejadian yang begitu memalukan
mencoreng nama baik manusia. Masalah yang seharusnya tidak terjadi dan dapat
dihalau. Toh,nasi sudah menjadi bubur, kita tidak dapat menghidarkan masalah
ini. Keserakaan manusia adalah alasan mengapa bencana ini terjadi pada alam
ini. Bencana asapa, ya bencana yang baru saja terjadi pada bumi nusantara ini.
Bencana yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia. Hutan-hutan yang
tumbuh begitu indah selama ini, dan telah melewati berbagai fase mulai dari
hujan, badai,kekeringan harus kalah dan menyerah kepada api. Api yang telah
merusak jutaan tumbuhan yang ada untuk dihanguskan dan dilenyapkan dari
permukaan bumi. Banyak spekulasi muncul yang terus berdatangan, tetapi yang
perlu kita ingat bahwa hutan kita semakin hari semakin berkurang.
Mungkin
dimasa yang akan datang kita harus berebut dan saling menyerang untuk
mendapatkan sebuah oksigen untuk keperluan bernafas. Atau kita harus
mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk menikmati kebebasan alam. Hal ini
bisa kita tanggulangi jika kita berfikir lebih rasional. Bahwa pada hakikatnya
manusia dan alam tidak dapat dipisahkan atau dihancurkan. Tanpa alam manusia
tidak dapat berbuat apa-apa, tetapi alam tanpa manusia mereka aka masih bisa berbuat
dan terus menciptakan keindahan-keindahan yang begitu menawan dan megah yang
tidak bisa dilukiskan oleh kata-kata. Dalam masalah ini, tentu setiap elemen
yang terlibat harus dimasukan untuk mencari jalan tengah nya. Kita tentu tidak
dapat dengan langsung menyalahkan orang-orang tertentu ataupun menyalahkan
negara atau pemerintah yang dianggap lalai untuk menyelesaikan masalah-masalah
ini. Masalah ini bukan hanya masalah orang-orang tertentu, tetapi juga
masalah-masalah yang harus diselesaikan bersama. Megingat bahwa jika hanya bisa
mengkritik tanpa memberikan solusi tentu kita termasuk manusia yang congkak dan
sombong. Bagaimana bisa kita hidup tanpa alam.
Pemahaman
tentang alam, memang semestinya harus cepat-cepat diselesaikan dan diatangani
dengan baik. Karena jika alam rusak, maka yang akan bertanggung jawab juga
adalah manusia. Kebakaran hutan, lahan dan polusi asap merupakan bentuk bencana
alam yang dapat menimbulkan kerugian baik kerugian dalam bentuk kerusakan pada
harta benda dan lingkungan, juga terganggunya kesehatan masyarakat, bahkan
kerugian yang berakibat pada hilangnya nyawa manusia. Kabut asap akibat
kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatera dan
Kalimantan beberapa waktu belakangan ini, telah mengganggu kehidupan
masyarakat. Kondisi tersebut terjadi hampir setiap tahun khususnya di musim
kemarau seperti saat ini. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat
setidaknya terdapat 156 titik panas sumber kabut asap di Sumatera dan
Kalimantan. Dari 156 titik tersebut, diketahui 95 terdapat di Sumatera dan 61
titik ditemukan di Kalimantan. Penyebaran kabut asap akibat kebakaran hutan dan
lahan yang terjadi, menyelimuti wilayah Sumatera Selatan, Jambi, Riau,
Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Setidaknya 25,6
juta jiwa yang terdiri atas 22,6 juta jiwa di Sumatera dan 3 juta jiwa di
Kalimantan menjadi korban asap akibat kebakaran hutan dan lahan tersebut.
Malaysia,
Singapura, Thailand dan Phiphinna tercatat telah mengajukan nota protes terhadap
pemerinthan Indonesia, karena asap yang “diproduksi” oleh Indonesia telah
membuat kehidupan warga mereka terganggu. Di Singapura penyelenggaraan F1 yang
menjadi tontonan warga dunia hampir dibatalkan gara – gara asap Indoensia.
Malaysia dan Thailand telah meliburkan sejumlah sekolah mereka dan mewaspadai
dari kabut asap. Lantas apa yang pemerintah kita lalukan? Sejauh ini pemerintah
Indonesia telah menerjunkan sejumlah anggota TNI, pesawat serta helikopter nya
untuk membantu memadamkan titik apai yang ada dan menyelamatkan lahan – lahan
yang masih bisa dilindungi dari titik api. Meskipun cenderung lamban ,
pemerintah Indonesia juga telah menerapkan langkah prefentif untuk menangani
bencana asap yang telah merenggut korban jiwa tersebut.
Mengingat
dalam menyelesaikan hal ini,kita juga bisa melihat aktor-aktor lain selain
negara, seperti NGO (non-government
organization)juga bisa turut andil dalam penyelesaian kasus semacam ini.
NGO relatif lebih dalam dan menyeluruh dalam menangani masalah ini. Seperti gerakan
atau organisasi GREENPEACE. Kebakaran
hutan adalah buah dari proses penghancuran hutan dan ekosistem gambut yang
telah berlangsung selama puluhan tahun. Greenpeace bekerja mendorong
penyelesaian akar masalah kebakaran hutan melalui kampanye Nol Deforestasi agar
proses penghancuran hutan dapat berhenti dan kawasan hutan alam dan ekosistem
gambut terlindungi. Selama ini kita belum mengatasi akar masalah namun hanya
mengobati symptom atau gejala, dan akibatnya kebakaran hutan terus terjadi
dalam dalam kurun waktu 18 tahun ini.
Sejak
mulai hadir di Indonesia sepuluh tahun lalu, Greenpeace memilih kampanye hutan
sebagai kampanye utama untuk dijalankan. Ini sejalan dengan strategi Greenpeace
di tingkat global yang fokus pada masalah deforestasi di hutan tropis yang
menyumbang hingga 25% total emisi gas rumah kaca global. Kawasan hutan tropis
ini memegang peranan kunci untuk membuat iklim dunia ini stabil untuk mengatasi
dampak perubahan iklim yang mematikan. Hutan Indonesia juga adalah rumah bagi
jutaan komunitas adat dan keanekaragaman-hayati yang luar biasa. Namun tingkat
degradasi hutan di Indonesia juga merupakan tertinggi di dunia. Kampanye
Greenpeace mencakup kampanye nol deforestasi di Amazon, Kongo dan Indonesia.
Dengan adanya gerakan-gerkan seperti greenpeace tersebut semoga menambah banyak
minta masyarakat untuk dan sadar akan alam dan berhenti untuk merusak alam
sesuka hati mereka. Semoga kedepannya semakin banyak yang berhenti
mengekspolitasi alam tanpa bertanggung jawab terhadap apa-apa yang mereka
lakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar