Rabu, 06 Januari 2016

APAKAH INDONESIA HARUS BERSAHABAT DENGAN ASAP?

Sadarlah Manusia
Oleh : Abdul Halim / 201410360311159
Mahasiswa jurusan Hubungan Internasional
Universitas Muhammadiyah Malang


Alam sebagai rumah dari ribuan mahluk hidup, telah ada sejak jutaan tahun lalu. Alam telah menjadi saksi bisu keberadaan bumi ini, mulai sejak manusia awal hidup sampai nanti umat terakhir yang akan mendiami bumi ini alam akan ada disitu. Keberadaan alam pun sendiri seolah tidak bisa dipisahkan lagi dari peradaban manusia. Manusia dan alam tentu tidak dapat dipisahkan. Alam mencakup segala materi hidup dan materi bukan hidup yang berada secara alami di bumi. Tentu keberadaan alam sendiri tidak bisa dipungkiri kehebatanyya. Meskipun telah ratusan orang hidup dan tinggal dengan alam, alam selalu memberikan apa yang mereka punya kepada manusia, tanpa memandang bulu dan ras.

Alam sebagai sahabat terdekat manusia dan tempat yang paling nyaman untuk ditinggali selama dunia masih berputar. Alam selalu memberikan sesuatu yang mereka punya kepada manusia. Tetapi manusia jarang yang menyadari akan kesetian yang diberikan oleh alam. Seolah manusia telah tertutupi oleh kebinggaran dunia akan segala ke modernitas yang di tawarkan. Manusia seolah menjadi mahluk yang angkuh untuk berbagi dan saling mengasihi. Seolah-olah yang hidup dan bertahan di dunia ini hanyalah manusia saja, tanpa ada pihak lain yang perlu diperhatikan. Hal ini tentu sangat tidak pantas bagi seorang yang diciptakan dengan memiliki segudang keistimewaan yang ada. Kita perlu menyadari bahwa alam ini tercipta berdasarkan sifat-sifat alamiah yang mereka punya. Keberadaan alam bukan diciptakan dari campur tangan manusia. Manusia sebagai seorang yang mampu untuk memimpin dan mempunyai segudang kelebihan tentu sebaiknya manusia menghargai komunitas lain seperti komunitas alam. Komunitas alam ini selalu memberikan kontribusi yang terbaik untuk kemaslahatan umat manusia. Manusia dan alam adalah sebuah mahluk hidup yang tidak dapat dipisahkan, mereka selalu berkengantungan antar satu dengan yang lain.

Kita sebagi umat manusia sebagai salah satu pewaris tahta dunia tentu sebaiknya menjaga kelangsungan hidup setiap elemen yang ada dibumi ini, bukan malah merusak dan tidak bertanggung jawab atas apa-apa yang telah dilakukan sebelumnya. Bila kita ingin menengok sedikit saja sudah berapa tanaman dan pohon yang harus dicabut dari tanah mereka dan harus dipisahkan dari permukaan bumi. Terutama di zaman yang serba modern ini, banyak manusia-manusia tidak bertanggung jawab yang merusak ekosistem alami hutan dan keindahan alam. Banyak manusia yang lalai akibat dari pengerusakan tersebut,apa yang terjadi dikemudian hari juga masih menjadi bayang-bayang kegelisahan yang sangat menakutkan. Banyak hal yang telah hancur dan hilang dari peradaban alam, baik itu yang disengaja oleh manusia maupun penyebab-penyebab alamiah atau natural.

Manusia sebagai mahluk yang sangat baik dan kompleksitas segalanya tentu sebaiknya memikirkan apa-apa yang telah mereka lakukan. Manusia selalu berlomba-lomba untuk menciptakan sesuatu yang baru dan semakin kompleks kedepannya. Tetapi tak jarang mereka melakukan kebaikan-kebaikan tersebut tetapi juga merusak alam. Banyak dari insan manusia yang menciptakan alat-alat terbaik yang mereka punya untuk menghancurkan alam. Mereka terlalu gila akan kemodernitas dan mulai menyingkirkan hal-hal yang berbau alam. Hal ini sangat disayangkan jika terus berlalu dan terulang. Jika pemikiran manusia selalu seperti ini, dapat kita gambarkan bahwa 100 tahun atau 1000 tahun lagi peradaban manusia setelah kita akan tidak mengenali apa itu hutan dan apa itu alam. Mungkin yang mereka bisa lakukan adalah melihat foto-foto alam atau hutan dari buku pelajaran yang disediakan oleh sekolah-sekolah yang ada.

Tentu masih hangat dalam ingatan kita bencana alam yang maha dasyat yang merobek perhatian mata kita dan dunia pada masalah ini. Kejadian yang begitu memalukan mencoreng nama baik manusia. Masalah yang seharusnya tidak terjadi dan dapat dihalau. Toh,nasi sudah menjadi bubur, kita tidak dapat menghidarkan masalah ini. Keserakaan manusia adalah alasan mengapa bencana ini terjadi pada alam ini. Bencana asapa, ya bencana yang baru saja terjadi pada bumi nusantara ini. Bencana yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia. Hutan-hutan yang tumbuh begitu indah selama ini, dan telah melewati berbagai fase mulai dari hujan, badai,kekeringan harus kalah dan menyerah kepada api. Api yang telah merusak jutaan tumbuhan yang ada untuk dihanguskan dan dilenyapkan dari permukaan bumi. Banyak spekulasi muncul yang terus berdatangan, tetapi yang perlu kita ingat bahwa hutan kita semakin hari semakin berkurang.

Mungkin dimasa yang akan datang kita harus berebut dan saling menyerang untuk mendapatkan sebuah oksigen untuk keperluan bernafas. Atau kita harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk menikmati kebebasan alam. Hal ini bisa kita tanggulangi jika kita berfikir lebih rasional. Bahwa pada hakikatnya manusia dan alam tidak dapat dipisahkan atau dihancurkan. Tanpa alam manusia tidak dapat berbuat apa-apa, tetapi alam tanpa manusia mereka aka masih bisa berbuat dan terus menciptakan keindahan-keindahan yang begitu menawan dan megah yang tidak bisa dilukiskan oleh kata-kata. Dalam masalah ini, tentu setiap elemen yang terlibat harus dimasukan untuk mencari jalan tengah nya. Kita tentu tidak dapat dengan langsung menyalahkan orang-orang tertentu ataupun menyalahkan negara atau pemerintah yang dianggap lalai untuk menyelesaikan masalah-masalah ini. Masalah ini bukan hanya masalah orang-orang tertentu, tetapi juga masalah-masalah yang harus diselesaikan bersama. Megingat bahwa jika hanya bisa mengkritik tanpa memberikan solusi tentu kita termasuk manusia yang congkak dan sombong. Bagaimana bisa kita hidup tanpa alam.

Pemahaman tentang alam, memang semestinya harus cepat-cepat diselesaikan dan diatangani dengan baik. Karena jika alam rusak, maka yang akan bertanggung jawab juga adalah manusia. Kebakaran hutan, lahan dan polusi asap merupakan bentuk bencana alam yang dapat menimbulkan kerugian baik kerugian dalam bentuk kerusakan pada harta benda dan lingkungan, juga terganggunya kesehatan masyarakat, bahkan kerugian yang berakibat pada hilangnya nyawa manusia. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan beberapa waktu belakangan ini, telah mengganggu kehidupan masyarakat. Kondisi tersebut terjadi hampir setiap tahun khususnya di musim kemarau seperti saat ini. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat setidaknya terdapat 156 titik panas sumber kabut asap di Sumatera dan Kalimantan. Dari 156 titik tersebut, diketahui 95 terdapat di Sumatera dan 61 titik ditemukan di Kalimantan. Penyebaran kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi, menyelimuti wilayah Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Setidaknya 25,6 juta jiwa yang terdiri atas 22,6 juta jiwa di Sumatera dan 3 juta jiwa di Kalimantan menjadi korban asap akibat kebakaran hutan dan lahan tersebut.

Malaysia, Singapura, Thailand dan Phiphinna tercatat telah mengajukan nota protes terhadap pemerinthan Indonesia, karena asap yang “diproduksi” oleh Indonesia telah membuat kehidupan warga mereka terganggu. Di Singapura penyelenggaraan F1 yang menjadi tontonan warga dunia hampir dibatalkan gara – gara asap Indoensia. Malaysia dan Thailand telah meliburkan sejumlah sekolah mereka dan mewaspadai dari kabut asap. Lantas apa yang pemerintah kita lalukan? Sejauh ini pemerintah Indonesia telah menerjunkan sejumlah anggota TNI, pesawat serta helikopter nya untuk membantu memadamkan titik apai yang ada dan menyelamatkan lahan – lahan yang masih bisa dilindungi dari titik api. Meskipun cenderung lamban , pemerintah Indonesia juga telah menerapkan langkah prefentif untuk menangani bencana asap yang telah merenggut korban jiwa tersebut.
Mengingat dalam menyelesaikan hal ini,kita juga bisa melihat aktor-aktor lain selain negara, seperti NGO (non-government organization)juga bisa turut andil dalam penyelesaian kasus semacam ini. NGO relatif lebih dalam dan menyeluruh dalam menangani masalah ini. Seperti gerakan atau organisasi GREENPEACE. Kebakaran hutan adalah buah dari proses penghancuran hutan dan ekosistem gambut yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Greenpeace bekerja mendorong penyelesaian akar masalah kebakaran hutan melalui kampanye Nol Deforestasi agar proses penghancuran hutan dapat berhenti dan kawasan hutan alam dan ekosistem gambut terlindungi. Selama ini kita belum mengatasi akar masalah namun hanya mengobati symptom atau gejala, dan akibatnya kebakaran hutan terus terjadi dalam dalam kurun waktu 18 tahun ini.

Sejak mulai hadir di Indonesia sepuluh tahun lalu, Greenpeace memilih kampanye hutan sebagai kampanye utama untuk dijalankan. Ini sejalan dengan strategi Greenpeace di tingkat global yang fokus pada masalah deforestasi di hutan tropis yang menyumbang hingga 25% total emisi gas rumah kaca global. Kawasan hutan tropis ini memegang peranan kunci untuk membuat iklim dunia ini stabil untuk mengatasi dampak perubahan iklim yang mematikan. Hutan Indonesia juga adalah rumah bagi jutaan komunitas adat dan keanekaragaman-hayati yang luar biasa. Namun tingkat degradasi hutan di Indonesia juga merupakan tertinggi di dunia. Kampanye Greenpeace mencakup kampanye nol deforestasi di Amazon, Kongo dan Indonesia. Dengan adanya gerakan-gerkan seperti greenpeace tersebut semoga menambah banyak minta masyarakat untuk dan sadar akan alam dan berhenti untuk merusak alam sesuka hati mereka. Semoga kedepannya semakin banyak yang berhenti mengekspolitasi alam tanpa bertanggung jawab terhadap apa-apa yang mereka lakukan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar