Iran
dan segala keinginannya
Oleh : Abdul Halim / 201410360311159
Mahasiswa jurusan Hubungan
Internasional
Universitas Muhammadiyah Malang
Nuklir
merupakan sesuatu yang sangat krusial dan sensitif untuk dibahas, karena akan
menimbulkan efek domino. Iran sebagai negara yang terletak dikawasan timur
tengah yang terus membangun negeri, terutama pasca revolusi Iran atau dikenal
dengan revolusi islam Iran pada tahun 1979. Iran sebagai negara yang sangat
strategis karena letaknya yang berada pada daratan Arab sebelah utara selat
hormuz yang sangat strategis. Dalam kehidupan Iran, tentu tidak dapat
dipungkiri lepas dari nuklir. Nuklir Iran menjadi sangat fundamental dan sangat
strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Iran. Program nuklir Iran
sendiri telah dikembangkan sejak tahun 1960-an ketika saat itu Iran berada pada
kekuasaan Shah dinasti tepatnya Shah Reza Pahlevi. Setelah adanya revolusi Iran
pada tahun 1979, kekuasaan Shah telah berakhir dan kekuasaan dipegang oleh
pemerintahan revolusi. Sejak berganti menjadi Republik Islam Iran, kekuasaan
pemerintahan diambil oleh Ayyatollah Khomeinni. Program nuklir Iran terus
dikembangkan. dipahami bahwa alasan utama dari program nuklir Iran adalah
sebagai sumber energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan pasokan listriknya. Setelah
terus menerus dilakukan upaya-upaya pengembangan teknologi nuklir, pada tahun
1998 pemerintah Iran mengumumkan lebih dari 15 fasilitas dan instalasi baru
yang dimiliki oleh Iran.
Iran
menandatangai traktat non-proliferasi pada 1 Juli 1968 (NPT). Traktat ini mulai
berlaku pada 5 Maret 1970 setelah diratifikasi oleh Majelis. Dalam bahasan pada
artikel IV traktat tersebut disebutkan bahwa Iran memiliki hak untuk
mengembangkan penelitian; memprduksi dan menggunakan nuklir untuk tujuan damai
tanpa diskriminasi; dan memperoleh peralatan, material, dan informasi serta
teknologi. Dengan menandatangani NPT, Iran sekaligus membuktikan bahwa Iran
tidak berencana mengembangkan nuklir untuk pembuatan senjata. Selain itu, di
tahun 1974 Iran juga mengajukan draft resolusi kepada Majelis Umum PBB untuk
membangun zona bebas senjata nuklir (nuclear weapon free zone) di Timur
Tengah. Dibalik banyaknya pihak-pihak yang merasa terancam dengan perkembangan
nuklir Iran, pemerintahan Iran sendiri mengatakan bahwa perkemabangannya adalah
untuk tujuan yang baik dan damai. Seperti menghasilkan sumber daya listrik ,
pemerintahan Iran menginginkan adanya perpindahan dari konsumsi minyak beralih
kepada nuklir.
Setelah
berulang kali terjadi penolakan dan protes oleh negara-negara barat serta
Amerika, pada tahun 2002 iran mengumumkan bahwa Iran telah membangun fasilitas
yang sangat berhubungan dengan nuklir. Maka turun lah IAEA (International
Atomic Energy Agency) mulai melakukan serangkaian investigasi dan penelusuran
terhadap Iran dan perkembangan nuklir Iran. IAEA mengatakan bahwa Iran telah
gagal mencapai kesepakatan dan bisa sewaktu-waktu menimbulkan konflik baru yang
ditakuti. Kegagalan yang penting dari program nuklir Iran adalah, pemerintahan
Iran cenderung menyembunyikan hal-hal yang mereka miliki terhadap perkembangan
nuklir mereka. IAEA dan dunia mulai menyoroti kehidupan dan program nuklir Iran
yang ada. Tentu mereka sangat menghawatirkan adanya program bawah tanah yang
sangat berbahaya jika memanga ada. Pada saat itu, Iran mengatakan bahwa mereka
akan tetap mematuhi perjanjian NPT yang mereka tandatangani dan setujui pada
tahun 1968.
Pada
tahun 2005, Iran saat itu tengah menyelenggarakan pemilihan presiden. Pada
akhirnya Mahmoud Ahmaddinejad, atau yang dikenal dengan Ahmaddinejad terpilih
menjadi presiden dari Republik Islam Iran yang keenam. Beberapa bulan pasca
terpilihnya Ahmaddinejad, Ahmaddinejad langsung menyatakan mereka akan mengembangkan kembali program
nuklir nya , memang mereka (pemerintahan Iran) menyatakan mereka akan
memabnagun nuklir untuk kepentingan damai dan tidak akan mengancam keamanan
regional. Dimata Internasional Iran telah menyalahi janji dan dianggap gagal
dalam melaksanakan perjanjian NPT tersebut. Banyak pihak yang terus menkan iran
supaya mau menghentikan dan menganulir keinginannya untuk mengembangakan
program nuklirnya, tetapi Iran terus menyatakan akan tetap melanjutkan program
nuklirnya dan menolak tekanan dari luar.
Pemerintah
Iran pada saat itu tengah dipegang oleh presiden Ahmaddinejad, memang
mendapatkan banyak sanksi dan tekanan dari luar. Slah satunya Amerika Serikat
(USA) yang cenderung lebih nyata dalam memberikan sanksi. Amerika Serikat (USA)
mengingatkan kepada Ahmaddinejad, Amerika Serikat dan dunia bisa saja dengan
mudah menjatuhkan sanksi kepada Iran. Sanksi diberikan sebagai bentuk penekanan
suapaya Iran mau dan mampu untuk menghentikan keinginannya tersebut.
Ahmaddinejad, sebagai seseorang presiden mengatakan bahwa Iran akan terus
melanjutkan perekembangan dan pembangunan nuklir Iran, mereka (pemerintah Iran)
tidak takut jika mereka diberikan sanksi. Ahamddinejad terus mengembangkan
program nuklir nya dan terus semakin vokal dalam menyatakan program-program
nuklirnya.
Kebijakan
yang diambil oleh pemerintahan Iran saat dipimpin oleh Ahmaddinejad memang
berbeda dengan pemimpinan presiden sebelumnya. Jika presiden sebelumnya lebih luwes dan menuruti serta mengikuti
perjanjian NPT tersebut. Dengan cara menyetujui tersebut, kekuatan nuklir Iran
memang sedikit terhambat kedepannya. Sedangkan pada saat pemerintahan
Ahmaddinejad, Ahmaddinejad lebih memiliki jiwa reformis. Dapat dilihat, dari
peraturan atau kebijakan tentang nuklir yang cenderung pada pemikirannya
sendiri dan jelas tidak mau dikonfortasi atau disetir oleh pihak lain yang
tidak sepemikiran dengan Ahamddinejad. Kenyataannya pada masa pemerintahan
Ahmaddinejad, Iran menggunakan sistem framming,
atau sistem yang menggubah persepsi dan opini masyarakat. Strategi ini lebih
berkaitan dengan opini publik Iran yang cenderung pro dan menyetujui adanya
pembangunan nuklir, dan mampu membingkai pemahaman khalayak ramai. Disini
pemerintahan Ahamddinejad berusaha menyatakan kepada masyarakat luas, bahwa
mereka melakukan ini semua demi kepentingan yang baik, dan bertujuan damai.
Dalam
pengambilan keputusan politik luar negerinya Ahmaddinejad, berusaha untuk
meyakinkan dunia bahwa Iran sangatlah sanggup dan mampu untuk mengembangkan
nuklirnya. Meskipun mendapatkan pertentangan dari pihak luar, Ahmaddinejad
mempunyai kerangak pemikiran yang baik. Dasar pembangunan nuklir adalah untuk
kepentingan nasional mereka (Iran) , suapaya mereka mempunyai nilai dan meingkatkan
power mereka. Selain itu dari segi
keilmuwan yang mereka miliki, Ahmaddinejad mengembangkan dan memulai lagi
program nuklirnya agar Iran bisa beralih dari masyarakat konsumtif minyak
menjadi masyarakat “nuklir”. Dari segi
kepemimpinan Ahmaddinejad , Iran mengembangkan nuklir juga dipengarui oleh
kepemimpinan Ahamddinejad, ia dikenal sebagai orang yang sangat tidak pro
dengan negara-negara barat serta Amerika Serikat(USA) tentunya. Ahmadddinejad
selalu tidak suka jika negaranya diperngarui oleh Amerika Serikat serta
negara-negara barat lainnya. Ahmaddinejad dikenal sebagai presiden yang tidak
suka dengan kebohongan dan penanaman pengaruh yang diberikan oleh barat serta
Amerika. Beliau dikenal sebagai seserorang yang “anti terhadap barat”. Selain itu,
ia merapakan kelanjutan pembangunan proliferasi nuklir untuk menanamkan serta
memperbesar kekuatan Iran. Secara tidak langsung Iran telah menolak pengaruh
barat dikarenakan, Iran memiliki pemimpin (pada saat itu) pemimpin yang baik
dan sangat kontra dengan barat serta Amerika. Hal ini merupakan kebenaran yang
tidak dapat dipungkiri yang telah ada. Iran berhasil membangun dan menghidupkan
kembali program nuklirnya meskipun banyak tekanan yang muncul serta adanya
embargo yang diterima. Bahkan saat telah mengakhiri masa pemerintahannya,
Ahmmaddinejad enggan bersantai, ia melanjutkan keinginannya membangun nuklir
Iran dengan cara menjadi pengajar dibidang nuklir disalah satu universitas yang
ada di Teheran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar