Sabtu, 21 November 2015

Iran dan segala keinginannya

                                                  Iran dan segala keinginannya    
         
Oleh : Abdul Halim / 201410360311159
Mahasiswa jurusan Hubungan Internasional
 Universitas Muhammadiyah Malang


Nuklir merupakan sesuatu yang sangat krusial dan sensitif untuk dibahas, karena akan menimbulkan efek domino. Iran sebagai negara yang terletak dikawasan timur tengah yang terus membangun negeri, terutama pasca revolusi Iran atau dikenal dengan revolusi islam Iran pada tahun 1979. Iran sebagai negara yang sangat strategis karena letaknya yang berada pada daratan Arab sebelah utara selat hormuz yang sangat strategis. Dalam kehidupan Iran, tentu tidak dapat dipungkiri lepas dari nuklir. Nuklir Iran menjadi sangat fundamental dan sangat strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Iran. Program nuklir Iran sendiri telah dikembangkan sejak tahun 1960-an ketika saat itu Iran berada pada kekuasaan Shah dinasti tepatnya Shah Reza Pahlevi. Setelah adanya revolusi Iran pada tahun 1979, kekuasaan Shah telah berakhir dan kekuasaan dipegang oleh pemerintahan revolusi. Sejak berganti menjadi Republik Islam Iran, kekuasaan pemerintahan diambil oleh Ayyatollah Khomeinni. Program nuklir Iran terus dikembangkan. dipahami bahwa alasan utama dari program nuklir Iran adalah sebagai sumber energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan pasokan listriknya. Setelah terus menerus dilakukan upaya-upaya pengembangan teknologi nuklir, pada tahun 1998 pemerintah Iran mengumumkan lebih dari 15 fasilitas dan instalasi baru yang dimiliki oleh Iran.

Iran menandatangai traktat non-proliferasi pada 1 Juli 1968 (NPT). Traktat ini mulai berlaku pada 5 Maret 1970 setelah diratifikasi oleh Majelis. Dalam bahasan pada artikel IV traktat tersebut disebutkan bahwa Iran memiliki hak untuk mengembangkan penelitian; memprduksi dan menggunakan nuklir untuk tujuan damai tanpa diskriminasi; dan memperoleh peralatan, material, dan informasi serta teknologi. Dengan menandatangani NPT, Iran sekaligus membuktikan bahwa Iran tidak berencana mengembangkan nuklir untuk pembuatan senjata. Selain itu, di tahun 1974 Iran juga mengajukan draft resolusi kepada Majelis Umum PBB untuk membangun zona bebas senjata nuklir (nuclear weapon free zone) di Timur Tengah. Dibalik banyaknya pihak-pihak yang merasa terancam dengan perkembangan nuklir Iran, pemerintahan Iran sendiri mengatakan bahwa perkemabangannya adalah untuk tujuan yang baik dan damai. Seperti menghasilkan sumber daya listrik , pemerintahan Iran menginginkan adanya perpindahan dari konsumsi minyak beralih kepada nuklir.

Setelah berulang kali terjadi penolakan dan protes oleh negara-negara barat serta Amerika, pada tahun 2002 iran mengumumkan bahwa Iran telah membangun fasilitas yang sangat berhubungan dengan nuklir. Maka turun lah IAEA (International Atomic Energy Agency) mulai melakukan serangkaian investigasi dan penelusuran terhadap Iran dan perkembangan nuklir Iran. IAEA mengatakan bahwa Iran telah gagal mencapai kesepakatan dan bisa sewaktu-waktu menimbulkan konflik baru yang ditakuti. Kegagalan yang penting dari program nuklir Iran adalah, pemerintahan Iran cenderung menyembunyikan hal-hal yang mereka miliki terhadap perkembangan nuklir mereka. IAEA dan dunia mulai menyoroti kehidupan dan program nuklir Iran yang ada. Tentu mereka sangat menghawatirkan adanya program bawah tanah yang sangat berbahaya jika memanga ada. Pada saat itu, Iran mengatakan bahwa mereka akan tetap mematuhi perjanjian NPT yang mereka tandatangani dan setujui pada tahun 1968.

Pada tahun 2005, Iran saat itu tengah menyelenggarakan pemilihan presiden. Pada akhirnya Mahmoud Ahmaddinejad, atau yang dikenal dengan Ahmaddinejad terpilih menjadi presiden dari Republik Islam Iran yang keenam. Beberapa bulan pasca terpilihnya Ahmaddinejad, Ahmaddinejad langsung menyatakan  mereka akan mengembangkan kembali program nuklir nya , memang mereka (pemerintahan Iran) menyatakan mereka akan memabnagun nuklir untuk kepentingan damai dan tidak akan mengancam keamanan regional. Dimata Internasional Iran telah menyalahi janji dan dianggap gagal dalam melaksanakan perjanjian NPT tersebut. Banyak pihak yang terus menkan iran supaya mau menghentikan dan menganulir keinginannya untuk mengembangakan program nuklirnya, tetapi Iran terus menyatakan akan tetap melanjutkan program nuklirnya dan menolak tekanan dari luar.

Pemerintah Iran pada saat itu tengah dipegang oleh presiden Ahmaddinejad, memang mendapatkan banyak sanksi dan tekanan dari luar. Slah satunya Amerika Serikat (USA) yang cenderung lebih nyata dalam memberikan sanksi. Amerika Serikat (USA) mengingatkan kepada Ahmaddinejad, Amerika Serikat dan dunia bisa saja dengan mudah menjatuhkan sanksi kepada Iran. Sanksi diberikan sebagai bentuk penekanan suapaya Iran mau dan mampu untuk menghentikan keinginannya tersebut. Ahmaddinejad, sebagai seseorang presiden mengatakan bahwa Iran akan terus melanjutkan perekembangan dan pembangunan nuklir Iran, mereka (pemerintah Iran) tidak takut jika mereka diberikan sanksi. Ahamddinejad terus mengembangkan program nuklir nya dan terus semakin vokal dalam menyatakan program-program nuklirnya.

Kebijakan yang diambil oleh pemerintahan Iran saat dipimpin oleh Ahmaddinejad memang berbeda dengan pemimpinan presiden sebelumnya. Jika presiden sebelumnya lebih luwes dan menuruti serta mengikuti perjanjian NPT tersebut. Dengan cara menyetujui tersebut, kekuatan nuklir Iran memang sedikit terhambat kedepannya. Sedangkan pada saat pemerintahan Ahmaddinejad, Ahmaddinejad lebih memiliki jiwa reformis. Dapat dilihat, dari peraturan atau kebijakan tentang nuklir yang cenderung pada pemikirannya sendiri dan jelas tidak mau dikonfortasi atau disetir oleh pihak lain yang tidak sepemikiran dengan Ahamddinejad. Kenyataannya pada masa pemerintahan Ahmaddinejad, Iran menggunakan sistem framming, atau sistem yang menggubah persepsi dan opini masyarakat. Strategi ini lebih berkaitan dengan opini publik Iran yang cenderung pro dan menyetujui adanya pembangunan nuklir, dan mampu membingkai pemahaman khalayak ramai. Disini pemerintahan Ahamddinejad berusaha menyatakan kepada masyarakat luas, bahwa mereka melakukan ini semua demi kepentingan yang baik, dan bertujuan damai.

Dalam pengambilan keputusan politik luar negerinya Ahmaddinejad, berusaha untuk meyakinkan dunia bahwa Iran sangatlah sanggup dan mampu untuk mengembangkan nuklirnya. Meskipun mendapatkan pertentangan dari pihak luar, Ahmaddinejad mempunyai kerangak pemikiran yang baik. Dasar pembangunan nuklir adalah untuk kepentingan nasional mereka (Iran) , suapaya mereka mempunyai nilai dan meingkatkan power mereka. Selain itu dari segi keilmuwan yang mereka miliki, Ahmaddinejad mengembangkan dan memulai lagi program nuklirnya agar Iran bisa beralih dari masyarakat konsumtif minyak menjadi masyarakat “nuklir”.  Dari segi kepemimpinan Ahmaddinejad , Iran mengembangkan nuklir juga dipengarui oleh kepemimpinan Ahamddinejad, ia dikenal sebagai orang yang sangat tidak pro dengan negara-negara barat serta Amerika Serikat(USA) tentunya. Ahmadddinejad selalu tidak suka jika negaranya diperngarui oleh Amerika Serikat serta negara-negara barat lainnya. Ahmaddinejad dikenal sebagai presiden yang tidak suka dengan kebohongan dan penanaman pengaruh yang diberikan oleh barat serta Amerika. Beliau dikenal sebagai seserorang yang “anti terhadap barat”. Selain itu, ia merapakan kelanjutan pembangunan proliferasi nuklir untuk menanamkan serta memperbesar kekuatan Iran. Secara tidak langsung Iran telah menolak pengaruh barat dikarenakan, Iran memiliki pemimpin (pada saat itu) pemimpin yang baik dan sangat kontra dengan barat serta Amerika. Hal ini merupakan kebenaran yang tidak dapat dipungkiri yang telah ada. Iran berhasil membangun dan menghidupkan kembali program nuklirnya meskipun banyak tekanan yang muncul serta adanya embargo yang diterima. Bahkan saat telah mengakhiri masa pemerintahannya, Ahmmaddinejad enggan bersantai, ia melanjutkan keinginannya membangun nuklir Iran dengan cara menjadi pengajar dibidang nuklir disalah satu universitas yang ada di Teheran.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar