AGRESI MILITER BELANDA I DAN II
2. 1. Pengertian Agresi Militer I dan II
"Operatie Product (bahasa Indonesia: Operasi Produk) atau yang dikenal di Indonesia dengan nama Agresi Militer Belanda I
adalah operasi militer Belanda di Jawa dan Sumatera terhadap Republik
Indonesia yang dilaksanakan dari 21 Juli 1947 sampai 5 Agustus 1947.
Operasi militer ini merupakan bagian Aksi Polisionil yang diberlakukan
Belanda dalam rangka mempertahankan penafsiran Belanda atas Perundingan
Linggarjati. Dari sudut pandang Republik Indonesia, operasi ini dianggap
merupakan pelanggaran dari hasil Perundingan Linggajati.
Sedangkan Agresi Militer Belanda II atau Operasi Gagak adalah operasi militer Belanda kedua yang
terjadi pada 19 Desember 1948 yang diawali dengan serangan terhadap
Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno,
Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya. Jatuhnya ibu kota
negara ini menyebabkan dibentuknya Pemerintahan Darurat Republik
Indonesia di Sumatera yang dipimpin oleh Sjafrudin Prawiranegara.
2. 2. Agresi Militer Belanda I
2. 2. 1. Penyebab Terjadinya Agresi Militer Belanda I
Agresi
militer Belanda I diawali oleh perselisihan Indonesia dan Belanda
akibat perbedaan penafsiran terhadap ketentuan hasil Perundingan
Linggarjati. Pihak Belanda cenderung menempatkan Indonesia sebagai
negara persekmakmuran dengan Belanda sebagai negara induk. Sebaliknya,
pihak Indonesia tetap teguh mempertahankan kedaulatannya, lepas dari
Belanda.
2. 2. 2. Tujuan Belanda Mengadakan Agresi Militer I
Adapun tujuan Belanda mengadakan agresi militer I yaitu sebagai berikut:
§ Tujuan politik
Mengepung ibu kota Republik Indonesia dan menghapus kedaulatan Republik Indonesia.
§ Tujuan ekonomi
Merebut pusat-pusat penghasil makanan dan bahan ekspor.
§ Tujuan militer
Menghancurkan Tentara Nasional Indonesia (TNI).
2. 2. 3. Kronologis Terjadinya Agresi Militer I
Sesudah penandatanganan Persetujuan Linggarjati, Belanda berusaha keras memaksakan interpretasi mereka sendiri dan berjalan sendiri
untuk membentuk negara-negara bagian yang akan menjadi bagian dari
negara Indonesia Serikat, sesuai dengan keinginan mereka. Hal
ini diawali dengan konferensi yang diselenggarakannya di Malino,
Sulawesi Selatan, dan kemudian di Denpasar, Bali. Di sana mereka
berhasil membentuk negara boneka Indonesia Timur dengan dibantu oleh
orang-orang yang pro Belanda seperti Sukawati dan Anak Agung Gde Agung.
Anak Agung Gde memang sejak awal sudah memusuhi pemuda-pemuda pro
Republik di daerahnya, serta mengejar-ngejar dan menangkapinya.
Memang
tujuan utama Belanda penandatanganan Persetujuan Linggarjati ialah
menjadikan negara Republik Indonesia yang sudah mendaptkan pengakuan de
facto dan juga de jure oleh beberapa negara, kembali menjadi satu negara
bagian saja seperti juga negara-negara boneka yang didirikannya, yang
akan diikutsertakan dalam pembentukan suatu negara Indonesia Serikat.
Langkah Belanda selanjutnya ialah memajukan bermacam-macam tuntutan yang
pada dasarnya hendak menghilangkan sifat negara berdaulat Republik dan
menjadikannya hanya negara bagian seperti negara boneka yang
diciptakannya di Denpasar. Yang menjadi sasaran uatamanya ialah
menghapus TNI dan perwakilan-perwakilan Republik di luar negeri, karena
keduanya merupakan atribut negara berdaulat.
Semua
tuntutan Belanda ditolak. Sementara itu keadaan keuangan Belanda sudah
gawat, dan kalau masalah Indonesia tidak cepat diselesaikan maka besar
kemungkinan Belanda akan bangkrut. Agresi militer pertama dilakukan
Belanda berlatar dua pokok di atas, yaitu melenyapkan Republik Indonesia
sebagai negara merdeka dengan menghilangkan semua atribut
kemerdekaannya, dan keadaan keuangan Belanda yang sangat gawat.
Dalam
serangan Belanda yang pertama itu mereka bermaksud hendak menduduki
Yogyakarta yang telah menjadi ibu kota perjuangan Republik Indonesia,
dan menduduki daerah-daerah yang penting bagi perekonomian Belanda,
yaitu daerah-daerah perkebunan, ladang minyak dan batu baik di Sumatera
maupun di Jawa. Usaha ini untuk sebagian berhasil; mereka berhasil
menduduki daerah-daerah perkebunan yang cukup luas, di Sumatera Timur,
Palembang, Jawa Barat dan Jawa Timur. Dari hasil penjualan produksi
perkebunan-perkebunan yang masih terkumpul, mereka mengharapkan
mendapatkan uang sejumlah US$ 300 juta, sedangkan biaya agresi militer
diperhitungkan akan memakan US$ 200 juta, jadi masih ada ”untung” US$
100 juta. Sasaran yang satu lagi, yaitu menduduki Yogyakarta tidak
tercapai, karena pada tanggal 4 Agustus 1947 Dewan Keamanan
memerintahkan penghentian tembak menembak. Selanjutnya PBB membentuk
Komisi PBB yang terdiri atas tiga negara: satu dipilih oleh Indonesia,
satu oleh Belanda dan yang satu lagi dipilih bersama. Komisi Tiga Negara
ini terdiri atas Amreika Serikat, Australia dan Belgia. Sjahrir memilih
Australia, dan bukan India, karena India sudah dianggap oleh dunia
sebagai pro Indonesia, sedangkan Australia adalah negara bangsa kulit
putih, yang dianggap lebih obyektif pendiriannya dalam mendukung
perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Perkiraan
Belanda dengan mengadakan agresi militernya yang pertama meleset sama
sekali; karena tanpa diperhitungkan sejak semula, bahwa Dewan Keamanan
PBB akan bertindak atas usul India dan Australia. India dan Australia
sangat aktif mendukung Republik di dalam PBB, di mana Uni Soviet juga
memberika dukungannta. Akan tetapi, peranan yang paling penting akhirnya
dimainkan oleh Amerika Serikat. Mereka yang menentukan kebijakan
Belanda, bahkan yang lebih progresif di antara mereka, merasa yakin
bahwa sejarah dan pikiran sehat memberi mereka hak untuk menetukan
perkembangan Indonesia, tetapi hak ini hanya dapat dijalankan dengan
menghancurkan Republik terdahulu. Sekutu-sekutu
utama negeri Belanda terutama Inggris, Australia, dan Amerika (negara
yang paling diandalkan Belanda untuk memberi bantuan pembangunan kembali
di masa sesudah perang) tidak mengakui hak semacam itu kecuali jika
rakyat Indonesia mengakuinya, yang jelas tidak demikian apabila pihak
Belanda harus menyandarkan diri pada penaklukan militer. Mereka mulai
mendesak negeri Belanda supaya mengambil sikap yang tidak begitu kaku,
dan PBB menjadi forum umum untuk memeriksa tindakan-tindakan Belanda.
Untuk
pertama kali sejak PBB didirikan pada tahun 1945, badan ini mengambil
tindakan mengentikan penyerangan militer di dunia dan memaksa agresor
agar menghentikan serangannya. Belanda yang menginginkan supaya masalah
Indonesia dianggap sebagai suatu persoalan dalam negeri antara Belanda
dan jajahannya, telah gagal, dan masalah Indonesia-Belanda menjadi
menjadi masalah internasional. Kedudukan Republik Indonesia menjadi
sejajar dengan kedudukan negara Belanda dalam pandangan dunia umumnya.
2. 2. 4. Dampak Agresi Militer I bagi Bangsa Indonesia.
Dampak
yang diperoleh bangsa Indonesia akibat adanya agresi militer I oleh
pihak Belanda yaitu sempat dikuasainya beberapa daerah-daerah perkebunan
yang cukup luas, di Sumatera Timur, Palembang, Jawa Barat dan Jawa
Timur. Meski PBB telah turut membantu mengatasi agresi militer yang
dilakukan Belanda terhadap Indonesia dengan diadakan penghentian tembak
menembak, tidak berarti bahwa tindakan militer Belanda langsung
terhenti. Mereka terus-menerus mengadakan gerakan pembersihan untuk
mengamankan dareah-dareah yang telah didudukinya. Dalam gerakan
pembersihan ini sering pula terjadi tindakan kejam oleh pasukan Belanda,
terutama di dareah-daerah yang sudah mereka duduki namun tidak dapat
dikuasai, umpamanya dareah sekitar Krawang-Bekasi
Di
sekitar Bekasi beroperasi pasukan kita yang dipimpin oleh Lukas
Kustrayo. Setelah pembentukan BKR ia langsung bergabung, dan pasukan
yang dibentuknya beroperasi di sekitar Bekasi. Setelah Belanda meyerang
pada bulan Juli 1947 Lukas tetap beroperasi di sana dan tetap menganggu
kehadiran Belanda di daerah itu, juga setelah diadakan pengehentian
tembak-menembak. Kegiatan Lukas sangat menjengkelkan Belanda, sehingga
Lukas diberi julukan ”Tijger van West Jawa” (Harimau Jawa Barat).
Belanda terus-menerus berusaha mengejar Lukas dan pasukannya, tetapi
selalu tidak berhasil. Setelah mereka mengetahui bahwa Lukas bermarkas
di desa Rawagede, mereka menyerbu desa itu pada tanggal 9 Desember 1947,
dan lagi-lagi Lukas dan pasukannya lolos. dalam kemarahan dan frustasi
karena usaha mereka tidak berhasil, pasukan Belanda menembaki rakyat
desa Rawagede secara membabi buta dan membunuh 491 orang dewasa dan
anak-anak. Kekejaman Belanda ini tidak pernah kita ungkapkan ke dunia
luar, karena pada waktu itu memang kita tidak mempunyai aparat untuk
melakukanya.
Kekejaman
Belanda lain yang dapat disebut adalah pembantaian rakyat Sulawesi
Selatan pada bulan Januari 1948 oleh pasukan Kapten Wasterling, yang
juga tidak pernah dihukum. Juga peristiwa kapten api maut di Jawa Timur,
ketika prajurit-prajurit Republik Indonesia yang tertawan oleh Belanda
diamsukkan dalam gerbong kereta api yang kemudian ditutup rapat tanpa
ventilasi, sehingga semua tawanan mati lemas karena kepanasan dan
kehabisan udara.
2. 2. 5. Perjuangan Bangsa Indonesia Terhadap Agresi Militer Belanda
a. Keampuhan Strategi Diplomasi
Harus
daikui, TNI mengalami pukulan berat berat saat agresi militer Belanda I
itu. Akan tetapi, kekalahan itu tidak menyurutkan perjuangan
mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ketika itulah perjuangan
diplomasi memegang peranan penting. Tanpa kenal lelah, para tokoh
Indonesia di luar negeri membela kepentingan Indonesia. Mereka berusaha
menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia layak dan mampu
merdeka dan berdaulat.
Keberhasilan perjuangan diplomasi terbukti dari munculnya reaksi keras terhadap tindakan agresi militer Belanda. India dan Australia mengajukan resolusi kepada Dewan Keamanan PBB. Amerika
Serikat menyerukan agar Indonesia dan Belanda menghentikan permusuhan
Polandia dan Uni Soviet mendesak agar pasukan Belanda ditarik dari
wilayah RI. Di tengah reaksi dunia internasional, pada tanggal 3 Agustus
1947, Belanda menerima resolusi Dewan Keamanan PBB untuk menghentikan
tembak-menembak.
b. Perundingan Renville
Pada tanggal 18 September 1947, Dewan Keamanan PBB membentuk Commite of Good Offices (Komite Jasa-jasa Baik). Komite itu kemudian terkenal dengan sebutan Komisi Tiga Negara (KTN). Anggota KTN terdiri atas wakil Australia, Richard Kiby, wakil Belgia, Paul van Zeeland, dan wakil Amerika Serikat, Frank Graham.
Terpilihnya Australia dalam KTN merupakan permintaan pihak Indonesia,
sedangkan terpilihnya Belgia merupakan permintaan pihak Belanda.
Kemudian Australia dan Belgia menentukan anggota KTN ketiga, yaitu
Amerika Serikat.
Tugas
pokok KTN adalah mecari penyelesaian damai terhadap masalah
perselisihan antara Indonesia dan Belanda. Untuk itu, KTN menawarkan
perundingan kepada kedua negara. Amerika Serikat mengusulkan tempat
pelaksanaan perundingan yang di luar wilayah pendudukan Belanda maupun
wilayah Republik Indonesia. Tempat yang dimaksud adalah sebuah kapal AS
bernama Renville, yang sedang berlabuh di Tanjung Priok. Perundingan itu
terkenal dengan sebutan Perundingan Renville.
Dalam
perundingan itu, delegasi Indonesia dipimpin oleh Amir Syarifuddin,
sedangkan delegasi Belanda dipimpin oleh Abdullah Wijoyoatmojo.
Perundingan berlangsung alot karena baik Indonesia maupun Belanda
cenderung berpegang teguh pada pendirian masing-masing. Akhirnya, pada
tanggal 17 Januari 1948, hasil Perundingan Renville disepakati dan
ditandatangani.
Hasil Perundingan Renville
· Penghentian tembak-menembak.
· Daerah-daerah di belakang garis van Mook harus dikosongkan dari pasukan RI.
· Belanda bebas membentuk negara-negara federal di daerah-daerah yang didudukinya dengan melalui plebisit terlebih dahulu.
· Dalam Uni Indonesia-Belanda, Negara Indonesia Serikat akan sederajat dengan Kerajaan Belanda.
Akibat
Perundingan Renville, wilayah Indonesia yang diakui menjadi semakin
sempit. Itulah sebabnya, hasil Perundingan Renville mengundang reaksi
keras dari kalangan partai politik, hasil perundingan itu memperlihatkan
kekalahan perjuangan diplomasi. Bagi TNI, hasil prundingan itu
mengakibatkan harus ditinggalkannya sejumalh wilayah pertahanan yang
telah susah payah dibangun. Ketidakpuasan yang semakin memuncak terhadap
hasil Perundingan Renville mengakibatkan Kabinet Amir Starifuddin
jatuh.
2. 3. Agresi Militer II
2. 3. 1. Penyebab Terjadinya Agresi Militer Belanda II
Seperti kejadian sebelumnya dalam Perundingan Linggarjati, pelaksanaan hasil Perundingan Renville mengalami kemacetan. Upaya
jalan keluar yang ditawarkan oleh KTN selalu mentah kembali karena
tidak adanya kesepakatan antara Indonesia dan Belanda. Indonesia melalui
Hatta (wakil presiden merangkap perdana menteri) tetap tegas
mempertahankan kedaulatan Indonesia, sementara Belanda terus berupaya
mecari cara menjatuhkan wibawa Indonesia. Saar ketegangan semakin
memuncak Indonesia dan Belanda mengirimkan nota kepada KTN. Nota itu
sama-sama berisi tuduhan terhadap pihak lawan yang tidak menghormati
hasil Perundingan Renville. Akhirnya, menjelang tengah malam pada
tanggal 18 Desember 1948, Wali Tinggi Kota Mahkota Belanda Dr. Beel
mengumumkan bahwa Belanda tidak terikat lagi pada hasil Perundingan
Renville. Dini hari tanggal 19 Desember 1948, pesawat terbang Belanda
membombardir Maguwo (sekarang Bandara Adisucipto) dan sejumlah bangunan
penting di Yogyakarta. Peristiwa itu mengawali agresi militer Belanda
II. Pemboman dilanjutkan dengan penerjunan pasukan udara. Dalam waktu
singkat, Yogyakarta, ibu kota RI ketika itu, dapat dikuasai.
2. 3. 2. Tujuan Belanda Mengadakan Agresi Militer II
Adapun
tujuan Belanda mengadakan Agresi Militer yang kedua ialah ingin
menghancurkan kedaulatan Indonesia dan mengusai kembali wilayah
Indonesia dengan melakukan serangan militer terhadap beberapa daerah
penting di Yogyakarta sebagai ibu kota Indonesia pada saat itu. Pihak
Belanda sengaja membuat kondisi pusat wilayah Indonesia tidak aman
sehingga akhirnya diharapkan dengan kondisi seperti itu bangsa Indonesia
menyerah dan bersedia menuruti ultimatum yang diajukan oleh pihak
Belanda. Selain itu bangsa Indonesia juga ingin menunjukkan kepada dunia
bahwa RI dan TNI-nya secara de facto tidak ada lagi.
2. 3. 3. Kronologis Terjadinya Agresi Militer II
Pelaksanaan
hasil Perundingan Renville mengalami kemacetan. Upaya jalan keluar yang
ditawarkan oleh KTN selalu mentah kembali karena tidak adanya
kesepakatan antara Indonesia dan Belanda. Indonesia melalui Hatta (wakil
presiden merangkap perdana menteri) tetap tegas mempertahankan
kedaulatan Indonesia, sementara Belanda terus berupaya mecari cara
menjatuhkan wibawa Indonesia. Saar ketegangan semakin memuncak Indonesia
dan Belanda mengirimkan nota kepada KTN. Nota itu sama-sama berisi
tuduhan terhadap pihak lawan yang tidak menghormati hasil Perundingan
Renville. Akhirnya, menjelang tengah malam pada tanggal 18 Desember
1948, Wali Tinggi Kota Mahkota Belanda Dr. Beel
mengumumkan bahwa Belanda tidak terikat lagi pada hasil Perundingan
Renville. Sementara itu keadaan dalam negeri sudah sangat tegang
berhubung dengan oposisi yang dilakukan oleh Front Demokrasi Rakyat (PKI
dan sekutunya) terhadap politik yang dijalankan oleh Kabinet Hatta.
Oposisi ini meningkat setelah seorang tokoh komunis kawakan, Muso, yang
memimpin pemberontakan PKI tahun 1926, kembali ke Indonesia dari Uni
Soviet. Muso sejak mudanya memang selalu bersikap radikal dan ia yang
mendorong PKI untuk memberontak pada tahun 1926. Oposisi terhadap
kabinet Hatta mencapai pucaknya ketika Sumarsono, pemimpin Pesindo
(Pemuda Sosialis Indonesia) mengumumkan pembentukan pemerintahan Soviet
di Madiun tanggal 18 September 1948. Pemberontakan ini segera ditumpas
pemerintah Republik. Belanda hendak mempergunakan pemberontakan PKI itu
sebagai alasan yang sangat baik untuk menyerang Republik dengan dalih
membantu Republik melawan komunisme.
Sebelum
pasukan-pasukan Republik dapat beristirahat setelah beroperasi
terus-menerus melawan PKI, Belanda menyerang lagi. Dini hari tanggal 19
Desember, pesawat terbang Belanda memborbardir Maguwo (sekarang Bandara
Adisucipto) dan sejumlah bangunan penting di Yogyakarta. Peristiwa itu
mengawali agresi militer Belanda II. Pemboman dilanjutkan dengan
penerjunan pasukan udara. Dalam waktu singkat, Yogyakarta ibu kota RI
ketika itu, dapat dikuasai.
Dalam suasana genting, pemerintah RI mengadakan rapat kilat dan menghasilkan keputusan darurat berikut.
§ Melalui
radiogram, pemerintah RI memberikan mandat kepada Syafruddin
Prawiranegara untuk membentuk Pemerintah Darurat RI (PDRI) di Sumatera.
§ Presiden
dan wakil presiden RI tetap tinggal dalam kota dengan resiko ditangkap
Belanda, agar dekat dengan KTN (yang sekarang berada di Kaliurang).
§ Pimpinan
TNI menyingkir keluar kota dan melancarkan perang gerilya dengan
membentuk wilayah pertahanan (sistem wehkreise) di Jawa dan Sumatera.
Setelah
menguasai Yogyakarta, pasukan Belanda menawan presiden, dan sejumlah
pejabat. Soekarno diasingkan ke Prapat, Hatta ke Bangka, tetapi kemudian
Soekarno dipindahkan ke Bangka. Sementara itu, Jenderal Soedirman
memimpin TNI melancarkan perang gerilya di kawasan luar kota.
2. 3. 4. Dampak Agresi Militer Belanda II bagi Bangsa Indonesia
Adanya
Agresi Militer kedua yang dilakukan Belanda terhadap Indonesia yaitu
mengakibatkan dihancurkannya beberapa bangunan penting di Yogyakarta,
bahkan Yogyakarta yang pada saat itu sebagai ibu kota Indonesia juga
mampu dikuasai oleh Belanda. Selain itu presiden dan wakil
presiden beserta sejumalh pejabat pemerintah Indonesia berhasil ditawan
kemudian diasingkan oleh pihak Belanda.
2. 3. 5. Perjuangan Bangsa Indonesia Terhadap Agresi Militer Belanda II
a. Keampuhan Strategi Diplomasi
Dengan
melancarkan agresi militernya yang kedua, Belanda ingin menunjukkan
kepada dunia bahwa RI beserta TNI-nya secara de facto tidak ada lagi.
Tujuan Belanda itu dapat digagalkan oleh perjuangan diplomasi. Para
pejuang diplomasi antara lain Palar, Sujatmoko, Sumitro, dan Sudarpo
yang berkeliling di luar negeri. Tindakan yang dilakukan dalam
perjuangan diplomasi antara lain sebagai berikut.
§ Menunjukkan
pada dunia internasional bahwa agresi militer Belanda merupakan bentuk
tindakan melanggar perjanjian damai (hasil Perundingan Renville).
§ Meyakinkan dunia bahwa RI cinta damai, terbukti dari sikap, mentaati hasil Perundingan Renville dan penghargaan terhadap KTN.
§ Membuktikan
bahwa RI masih berdaulat dengan fakta masih berlangsungnya pemerintahan
melalui PDRI dan keberhasilan TNI menguasau Yogyakarta selama 6 jam
(Serangan Oemoem 1 Maret).
Kerja keras perjuangan diplomasi mampu mengundang simapti internasional terhadap Indonesia. Amerika
Serikat mendesak Belanda untuk menarik mundur pasukannya dari wilayah
RI (dengan ancaman menghentikan bantuannya). Dewan Keamanan PBB mendesak
Belanda untuk menghentikan operasi militer dan membebaskan para
pemimpin Indonesia. Desakan yang gencar dari dunia internasional
akhirnya dapat membuat Belanda mengakhiri militernya kedua.
b. Pemerintahan Darurat Republik Indonesia
Sebelum
pasukan Belanda memasuki istana kepresidenan, Presiden Soekarno
mengintruksikan kepada Menteri Kemakmuran Syafruddin Prawiranegara (yang
kebetulan berada di Sumatera) untuk membentuk pemerintahan darurat,
jika pemerintah RI Yogyakarta tidak dapat berfungsi lagi. Sesuai dengan
instruksi itu, Syafruddin Prawiranegara membentuk Pemerintah Darurat
Republik Indonesia. PDRI berkedudukan di Bukittinggi, Sumatera Barat.
Kabinet PDRI
§ Ketua (perdana menteri) merangkap menteri pertahanan dan penerangan: Syafruddin Prawiranegara.
§ Menteri luar negeri: A. A. Maramis
§ Menteri pendidikan dan kebudayaan merangkap menteri dalam negeri dan agam: Teuku Moh. Hasan.
§ Menteri keuangan merangkap menteri kehakiman: Lukman Hakim.
§ Menteri sosial dan perburuhan, pembangunan, organisasi pemuda dan keamanan: Sutan Rasyid.
§ Menteri pekerjaan umum merangkap menteri kesehatan: Ir. Sitompul.
§ Menteri perhubungan merangkap menteri kemakmuran: Ir. Inderacaya.
Selama
agresi militer II, Belanda terus menerus memprogandakan bahwa
pemerintahan di Indonesia sudah tidak ada lagi. Propaganda dapat
digagalkan oleh PDRI. PDRI berhasil menunjukkan kepada dunia
internasional bahwa pemerintahan dalam tubuh RI masih berlangsung.
Bahkan, pada tanggal 23 Desember 1948, PDRI mampu memberikan instruksi
lewat radio kepada wakil RI di PBB. Isinya, pihak Indonesia sekaligus
mengundang simapti internasional.
Atas
dasar keberhasilan itu, para pemimpin PDRI sempat kecewa dengan
tindakan para pemimpin RI di Bangka yang mengadakan perundingan dengan
Belanda tanpa sepengetahuan mereka. Mereka juga tidak menyetujui hasil
Perundingan Roem-Roijen yang cenderung melemahkan wibawa Indonesia. Para
pemimpin PDRI yakin bahwa kedudukan Indonesia telah kuat sehingga mampu
lebih banyak kepada Belanda.
Untuk
menyelesaikan perbedaan pandangan, berlangsung pertemuan antara para
pemimpin PDRI dan pemimpin RI yang pernah ditawan di Bangka. Pertemuan
itu berlangsung pada tanggal 13 Juli 1949 di Jakarta. Hasil pertemuan
itu adalah sebagai berikut.
§ PDRI menyerahkan keputusan mengenai hasil Perundingan Roem Roijen kepada kabinet, Badan Pekerja KNIP, dan pimpinan TNI.
§ Pada hari itu juga, Syafruddin Prawiranegara menyerahkan mandat secara resmi kepada Wakil Presiden Hatta.
c. Perundingan Roem-Roijen
Untuk menjamin terlaksananya penghentian agresi militer Belanda II, PBB membentuk United Nations Commission for Indonesia (UNCI) atau Komisi PBB untuk Indonesia. Perundingan mulai pada pertengahan April 1949. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Moh. Roem,
sedangkan delegasi Belanda dipimpin oleh Dr. van Roijen. Tokoh UNCI
yang berperan dalam perundingan adalah Merle Cohran dari Amerika
Serikat. Perundingan banyak mengalami kemacetan sehingga baru mencapai
kesepakatan pada awal Mei 1949.
Hasil Perundingan Roem-Roijen
Pernyataan Indonesia
§ Perintah kepada TNI untuk menghentikan perang gerilya.
§ Bekerja sama mengendalikan perdamaian, ketertiban, dan keamanan.
§ Turut
serta dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag untuk mempercepat
pengakuan kedaulatan kepada Negara Indonesia Serikat secara lengkap
tanpa syarat.
Pernyataan Belanda
§ Menyetujui pemulihan pemerintahan RI di Yogyakarta.
§ Menjamin penghentian operasi militer dan pembebasan semua tahanan politik.
§ Menyetujui RI sebagai negara bagian dalam Negara Indonesia Serikat.
§ Berusaha sungguh-sungguh menyelenggarakan Konferensi Meja Bundar di Den Haag.
Sejak
bulan Juni 1949, berlangsung persiapan pemulihan pemerintahan RI di
Yogyakarta. Persiapan itu berlangsung di bawah pengawasan UNCI. Sejak
tanggal 24 sampai 29 Juni 1949, tentara Belanda ditarik dari kota
Yogyakarta. Setelah itu, TNI memasuki kota Yogyakarta. Pada tanggal 6
Juni 1949, presiden dan wakil presiden serta para pemimpin lainnya
kembali ke Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar